BAB I
PENDAHULUAN
I. 1 MAKSUD DAN TUJUAN
Fieldtrip geologi
struktur di pegunungan kendeng dimaksudkan untuk memperkenalkan kepada
praktikan mengenai fenomena-fenomena geologi struktur seperti lipatan, sesar,
kekar, gores-garis dan struktur lainnya.
Sedangkan tujuannya adalah untuk
melatih praktikan agar dapat melakukan rekonstruksi dan analisa data geologi
struktur yang diperoleh langsung di lapangan.
I. 2 WAKTU DAN KESAMPAIAN DAERAH
Fieldtrip Geologi struktur ini dilaksanakan
pada :
Hari/tanggal : Minggu, 17 Desember
2006
Waktu : 09.30 – selesai
Lokasi :
Zona kendeng atau secara administratif termasuk dalam dusun Jurang Kudi, kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen,
Jawa Tengah. Daerah ini tercantum pada peta topografi skala 1 : 25.000 lembar
49/XL-n dan berada di sebelah timur Alaskobong.
I. 3 METODE PENELITIAN
Penelitian terhadap singkapan lipatan ini
dilakukan secara langsung dengan melihat struktur dari dekat dan mengukur
struktur tersebut. Struktur yang diukur dapat berupa kekar, sesar ataupun
struktur lipatan berupa antiklin dan sinklin serta mikrofold yang terdapat pada
masing – masing lokasi pengamatan.
I. 4 PENELITI TERDAHULU
-
De
Genevraye & Samuel, 1972.
-
Pringgopawiro,
1983.
-
Sutardi,
1993.
BAB II
GEOLOGI REGIONAL
II.1 GEOMORFOLOGI REGIONAL
Zona Kendeng merupakan pegunungan
yang memanjang dengan arah barat timur. Pegunungan ini tersusun oleh batuan
sedimen yang telah mengalami perlipatan dan pensesaran dan membentuk suatu
antiklinorium. Pegunungan ini mempunyai panjang 250 km dan lebar maksimum 40 km
(de Genevraye & Samuel, 1972) membentang dari gunung api Ungaran di bagian
barat ke timur melalui Ngawi hingga daerah Mojokerto. Dibawah permukaan,
kelanjutan zona ini masih dapat diikuti hingga dibawah Selat Madura.
Jajaran pegunungan dengan
perbukitan bergelombang, yang mempunyai ketinggian antara 50 – 200 m menjadi ciri
khas dari zona pegunungan Kendeng ini. Kelurusan yang berarah barat timur yang
tercermin pada topografi pegunungan tersebut mencerminkan adanya perlipatan dan
sesar naik yang berarah barat timur.
II. 2 STRATIGRAFI REGIONAL
Stratigrafi zona Kendeng ini
berturut-turut dari tua ke muda (menurut Pringgopawiro,H, 1983,dalam Sutardi
1993) adalah seperti tersebut dibawah ini :
- Formasi
Pelang, sebagai formasi tertua terdiri dari napal, lempung, dengan sisipan
Kalkarenit.
- Formasi
Kerek, diendapkan secara tidak selaras diatas formasi Pelang, terdiri dari
perulangan batu pasir, batu pasir tuffan, batu pasir karbonatan dengan
napal dan lempung.
- Formasi
Kalibeng, terletak selaras diatas formasi kerek, terdiri dari napal masif
yang tebal dengan sisipan batu pasir tuffan dan tuff.
- Formasi
Banyak, formasi ini bersilang menjari dengan formasi Kalibeng berupa batu
pasir tuffan, batu pasir kerikilan yang tebal, batu pasir karbonatan
dengan lempung dan napal.
- Formasi
Klitik, selaras diatas formasi Kalibeng terdiri dari batu gamping
bioklastik dengan sisipan napal.
- Formasi
Sonde, terletak selaras diatas formasi Klitik berupa napal pasiran dan
batu lempung.
- Formasi
Damar, terletak tidak selaras diatas formasi Sonde, berubah fasies menjadi
formasi Pucangan kearah timur.
- Formasi
Kabuh, terletak diatasnya berupa batu pasir kasar dengan sisipan
konglomerat.
- Formasi
Notopuro, tidak selaras diatas formasi Kabuh, terdiri dari breksi Lahar,
batu pasir vulkanik dengan sisipan tuff.
Fieldtrip Geologi
Struktur kali ini hanya melalui formasi Kerek dan Kalibeng saja.
II. 3 STRUKTUR GEOLOGI REGIONAL
Zona Kendeng pada kala miosen awal
hingga resen merupakan aktif secara tektonik. Dalam kerangka tektonik regional,
zona Kendeng yang termasuk bagian dari cekungan Jawa Timur mengalami rezim
tektonik regangan (tension) pada zaman paleogen yang menghasilkan sesar-sesar
normal dan bentuk tinggian rendahan. Sedangkan pada zaman Neogen, cekungan Jawa
Timur utara mengalami rezim kompresi yang mengakibatkan reaktifasi sesar-sesar
normal yang menghasilkan sesar-sesar naik. Sesar-sesar ini memotong lapisan
sedimen Neogen dan menghasilkan sesar-sesar anjak. Sesar-sesar anjak tersebut
banyak dijumpai pada zona Kendeng barat, sedangkan pada zona Kendeng Timur
menunjukkan antiklin yang sumbu-sumbunya menunjam ke timur. Pada bagian timur
intensitas perlipatan beserta anjakannya berangsur melemah dan menghilang
kearah Selatan, sehingga hanya antiklin di utara yang masih dapat diikuti
sampai Surabaya .
Jalur lipatan-lipatan ini berbatasan langsung dengan busur vulkanik dan hanya
dipisahkan oleh suatu alluvial Ngawi.
BAB III
GEOLOGI
DAERAH PEMETAAN
III. 1 STASIUN PENGAMATAN 1 DAN 2
Terletak disebelah timur
Alaskobong, tepatnya di Dusun Jurang Kudi, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten
Sragen, Jawa Tengah. Pada lokasi ini dijumpai singkapan yang terbentuk karena
bukit terpotong oleh jalur kereta api. Morfologi berupa perbukitan rendah atau
topografi bergelombang. Pada singkapan, terdiri dari litologi perulangan antara
batu pasir dengan batu lempung dari formasi Kerek. Dengan adanya perulangan ini
struktur geologi menjadi jelas. Struktur geologi yang dapat dijumpai berupa
lipatan (sinklin – antiklin), sesar (naik – turun), gores – garis dan struktur
penyerta lainnya.
Stasiun pengamatan 1 terdiri dari 2
kali pengamatan, sedangkan stasiun pengamatan 2 terdiri dari 10 lokasi
pengamatan.
III. 1. 1 Stasiun pengamatan 1
III.
1. 1. 1 Sketsa singkapan sesuai dengan arah memanjang rel

III.
1. 1. 2 Pengukuran dua strike dan apperent dip
N 80 °E / 14°
N 75 °E / 38°
III. 1. 2. Stasiun pengamatan 2
III. 1. 2. 1. Lokasi Pengamatan
1
Pada lokasi
pengamatan yang berlitologi batu napal dan lempung ini dijumpai bidang
perlapisan dengan kenampakan struktur berupa sesar dan kekar. Sesar yang
terdapat pada lokasi ini berjenis sesar turun sedangkan kekar yang terdapat
disini adalah kekar gerus, karena terdapat banyak kekar yang berpasangan.
Adapun ciri kekar gerus dilapangan ialah berpasangan dan bidang kekar selalu
lurus dan rata.. Berikut ini adalah data – data dari lokasi pengamatan 1 :
1. Bidang perlapisan berarah N 65 °E / 20,5°.
2. Bidang sesar turun berarah N 246 °E / 26°
dengan offset sebesar ±1m.
3. 5 pasang kekar yang berarah :
N 238 °E / 50,5° N 227 °E / 46°
N 348 °E / 85° N 252 °E / 49°
N 241 °E / 42 N 278 °E / 5°
N 344 °E / 72 N 245 °E / 21°
N 351 °E / 62 N 243 °E / 21°

Gambar 1. Kekar
pada lokasi pengamatan 1
III. 1. 2. 2. Lokasi Pengamatan
2
Terletak 12
meter arah selatan LP 1, pada lokasi pengamatan ini dijumpai bidang perlapisan
dengan arah N 20 °E / 14°, juga struktur sesar yang berupa sesar naik dengan
arah N 260 °E / 44°. Lokasi ini berlitologi batu napal dan lempung.

Gambar 2. Kekar
pada lokasi pengamatan 2.
III. 1. 2. 3. Lokasi Pengamatan
3
Terletak 8,5
meter ke arah selatan dari LP 2, pada lokasi pengamatan ini terdapat struktur
antiklin dengan kedua sayapnya (limb) berada pada arah utara selatan.Sayap
bagian utara berarah N 248 °E / 24° dan sayap bagian selatan berarah N 67 °E /
22°. Di lokasi ini juga dijumpai struktur sesar yang berarah N 271 °E / 64°.
Lokasi ini berlitologi batu pasir, napal dan lempung.

Gambar 3. Puncak
antiklin pada lokasi pengamatan 3.
III. 1. 2. 4. Lokasi Pengamatan
4
Terletak 17
meter ke arah selatan LP 3, pada lokasi pengamatan ini dijumpai struktur sesar
dengan arah N 274 °E / 48°. Lokasi ini berlitologi batu pasir, napal dan
lempung.

Gambar 4. Salah
satu sayap lipatan antiklin pada lokasi pengamatan 4.
III. 1. 2. 5. Lokasi Pengamatan
5
Terletak 30
meter ke arah selatan dari LP 4, pada lokasi pengamatan ini dijumpai bidang
perlapisan dengan arah N 88 °E / 40°, juga struktur sesar turun yang berarah N
113 °E / 82° dengan besar offset 8,5 cm. Lokasi ini berlitologi batu pasir,
napal dan lempung.

Gambar 5. Kekar
pada lokasi pengamatan 5.
III. 1. 2. 6. Lokasi Pengamatan
6
Pada lokasi
pengamatan yang terletak 30 meter ke arah selatan dari LP 5 ini dijumpai bidang
perlapisan dengan arah N 74 °E / 24°, juga struktur sesar turun yang berarah N
246 °E /13° dengan offset sebesar 30 cm. Lokasi ini berlitologi batu pasir,
napal dan lempung.

Gambar 6. Bidang
sesar pada lokasi pengamatan 6.
III. 1. 2. 7. Lokasi Pengamatan
7
Pada lokasi
pengamatan yang terletak 30 meter ke arah selatan LP 6 ini, memiliki bidang
perlapisan N 51 °E / 18 °, juga dijumpai
struktur sesar naik dengan arah N 95 °E / 61° dan kekar dengan arah N 80 °E /
55°. Lokasi ini berlitologi batu pasir, napal dan lempung.

Gambar 7. Lapisan
pada lokasi pengamatan 7.
III. 1. 2. 8. Lokasi Pengamatan
8
Pada lokasi
pengamatan yang berjarak 30 meter dari LP 7 ini dijumpai bidang perlapisan
dengan arah N 243 °E / 3°, juga struktur kekar berpasangan dengan arah masing – masing adalah N 152 °E /
78° dan N 215 °E / 90°. Di lokasi ini juga ditemukan struktur mikrofold. Lokasi
ini berlitologi batu pasir, napal dan lempung.

Gambar 8. Kekar
pada lokasi pengamatan 8.
III. 1. 2. 9. Lokasi Pengamatan
9
Pada lokasi
pengamatan yang berjarak 30 meter dari LP 8 ini memiliki bidang perlapisan N
250 °E / 27°, juga dijumpai struktur sesar naik dengan arah N 256 °E / 33° dan
struktur kekar dengan arah N 93 °E / 34° serta struktur laminasi. Kekar pada
lokasi ini merupakan kekar tarik yang ditumpangi oleh endapan material –
material sedimen yang membentuk vein karbonatan yang sifatnya lunak dan
berwarna putih. Lokasi ini berlitologi batu pasir, napal dan lempung.

Gambar 9. Kekar
tarik pada lokasi pengamatan 9.
III. 1. 2. 10. Lokasi Pengamatan
10
Pada lokasi
pengamatan yang berjarak 30 meter dari LP 9 ini dijumpai struktur sesar naik
dengan arah N 237 °E / 84° dan struktur mikrofold dengan arah sayap utara N
222°E / 42°. Lokasi ini berlitologi batu pasir, napal dan lempung.

Gambar 10. Kekar
tarik pada lokasi pengamatan 10.
BAB IV
PEMBAHASAN
Pada perbukitan Kendeng yang
menjadi lokasi field trip kali ini,
dijumpai struktur lipatan dengan struktur – struktur sertaan lainnya berupa
kekar dan sesar ataupun struktur lainnya, yang antara lain berupa mikrofold. Morfologi
pegunungan di Zona Kendeng ini merupakan hasil dari gaya endogen yang menyebabkan terbentuknya
lipatan, sehingga perbukitan ini merupakan perbukitan lipatan.
Singkapan perlipatan terlihat
karena terpotongnya bukit untuk sarana transportasi rel kereta api. Tenaga
endogen, selain menyebabkan terjadinya perlipatan pada daerah ini, juga
menimbulkan struktur berupa kekar dan sesar. Kekar yang terjadi pada area ini
terdiri dari dua jenis kekar yang utama, yaitu kekar gerus dan kekar tarik.
Dari dua jenis kekar ini, yang paling banyak dijumpai kenampakannya adalah
kekar gerus. Kekar gerus merupakan salah satu kekar sistematik yang terbentuk
oleh tenaga endogen yang menekan batuan (kompresi), dimana arah – arah gaya pembentuknya saling
tegak lurus sehingga menghasilkan kenampakan kekar yang selalu lurus dan
berpasangan.
Hal ini berbeda dengan kekar tarik,
yang merupakan kekar yang terjadi sebagai akibat dari gaya tarik (tension) pada batuan, sehingga
menyebabkan kenampakan kekar di lapangan tidak lurus dan tidak berpasangan.
Salah satu kenampakan kekar gerus yang paling banyak dijumpai pada stasiun
pengamatan 2 adalah pada lokasi pengamatan 1, di lokasi ini kami mendapat
tanggung jawab untuk mengukur 5 pasang kekar gerus. Berikut adalah hasil dari
pengukuran tersebut :
N 238 °E / 50,5° N 227 °E / 46°
N 348 °E / 85° N 252 °E / 49°
N 241 °E / 42 N 278 °E / 5°
N 344 °E / 72 N 245 °E / 21°
N 351 °E / 62 N 243 °E / 21°
Dari 5 pasang kekar ini kami melakukan analisa
pengukuran arah gayanya (σ1, σ2, σ3) dengan
proyeksi stereografis (lihat lampiran), sehingga kami mendapatkan nilai – nilai
arah gaya
sebagai berikut :
σ1 = 59° / N 235 °E
σ2 = 81° / N 324 °E
σ3 = 23° / N 101 °E
Selain pada lokasi pengamatan 1,
fenomena kekar gerus juga dijumpai pada lokasi pengamatan 8, dimana pada lokasi
ini terdapat sepasang kekar gerus dengan arah N 152 °E / 78° dan N 215 °E /
90°. Setelah melalui analisa menggunakan proyeksi stereografis, maka didapat
nilai arah gaya
sebagai berikut :
σ1 =
78° / N 192°E
σ2
= 82° / N 78°E
σ3
= 7° / N 274 °E
Adapun kekar tarik dijumpai pada
lokasi pengamatan 9, kekar tarik pada lokasi pengamatan ini ditumpangi oleh
material sedimen yang lebih muda sehingga membentuk urat batu atau yang biasa
disebut dengan vein. Material sedimen yang mengisi kekar ini merupakan material
karbonatan yang bersifat lunak dan berwarna putih. Memang, secara umum pada
daerah ini memiliki litologi atas batu napal, batu pasir dan lempung yang
sebagian diantaranya memiliki kandungan karbonat, hal ini dapat diketahui
dengan mudah dengan menggunakan HCl sebagai media test.
Di lain pihak, struktur
lipatan yang berupa antiklin dan sinklin ternyata dapat dianalisa secara lebih
mendalam. Dari kenampakan di lapangan dapat dilihat bahwa lokasi pengamatan 1
dan lokasi pengamatan 3 berada pada sebuah sinklin, sehingga analisa terhadap sinklin
dapat dilakukan dengan menggunakan data – data yang diperoleh pada masing –
masing lokasi tersebut. Pengukuran bidang perlapisan pada lokasi pengamatan 1
memiliki arah N 65 °E / 20,5° dan
pada lokasi pengamatan 3 terdapat struktur antiklin berupa sayap (limb) yang terletak
pada arah utara selatan. Nilai arah kemiringan sayap utara adalah N 248 °E /
24°. Nilai ini digunakan untuk pengukuran axial plane dari sinklin disebelah
utaranya. Dari dua besaran ini, kami dapat menganalisa letak axial plane atau sumbu lipatan dari sinklin
dengan menggunakan proyeksi stereografis, sehingga didapatkan letak dan arah
dari axial plane adalah N 246 °E /
68°. (lihat lampiran)
Seperti yang telah diketahui, bahwa
pada lokasi pengamatan 3 secara jelas terlihat struktur antiklin dengan dua
sayap berarah utara selatan. Arah kedua sayap ini, yaitu N 248 °E / 24° untuk sayap bagian utara dan N 67 °E / 22° untuk sayap bagian selatan dapat digunakan untuk mengukur
letak axial plane dari antiklin serta
untuk pengukuran interlimb angle atau
sudut antar sayap. Dari analisa stereografis, didapat letak axial plane pada arah N 247 °E / 88° dan interlimb angle sebesar 1°. (lihat lampiran)
Sama halnya dengan antiklin ini,
terdapat struktur sinklin besar yang dapat dianalisa melalui data – data yang
diperoleh pada lokasi pengamatan 6 dan 9 karena lokasi ini berada pada wilayah
sinklin tersebut. Axial plane dari sinklin dapat diketahui melalui analisa
stereografis dari bidang perlapisan 6 dan 9. Lokasi pengamatan 6 memiliki bidang perlapisan
dengan arah N 74 °E / 24° dan
lokasi pengamatan 9 memiliki bidang perlapisan dengan arah N 250 °E / 27°. Dari
dua data ini diperole axial plane pada arah N 72 °E / 88°. (lihat lampiran)
BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil analisa pada bab pembahasan, terhadap
struktur perlipatan berupa antiklin dan sinklin serta struktur berupa sesar dan
kekar, dapat ditarik suatu benang merah bahwa sesuai dengan Geologi regional
zona Kendeng pada wilayah Alaskobong ini merupakan perbukitan lipatan dengan
ketinggian ± 50 m dengan arah singkapan memanjang utara selatan sepanjang ± 300
m dengan sesar yang berarah barat timur.